Surya Nuswantara - Dalam Dokumen pertama kebanyakan berisikan cerita yang dicerminkan sejarah terciptanya “serat ratu pinasthi” dan adanya dokumen dan peninggalan dimulai dari lagu:
Tembangan lir ilir
Lir – ilir, lir – ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surako …, surak iyo …
Lir ilir lir ilir tandure wus sumilir / tak ijo royo royo / tak sengguh penganten anyar
(Bangunlah, bangunlah, tanaman sudah bersemi / dan menghijau / bak pengantin baru)
Bangunlah bermakna asosiatif untuk segera bangkit. Bangun berasosiasi juga dengan pagi hari yang bersimbol untuk mengawali hari yang baru. Bangun dan mengawali dari keterpurukan, kemalasan atau kesalahan masa lalu. Memulai hari layaknya tanaman yang mulai bersemi (dan menghijau). Mengawali dengan penuh gairah bak pengantin baru. Sekalipun sudah lama!
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi / lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
(anak gembala, Anak gembala panjatlah pohon blimbing itu / sekalipun licin (tetap) panjatlah, untuk membersihkan bajumu)
Kenapa pula “cah angon”? Cah angon sejatinya bersimbol pada penggembalaan hati. Fitrah manusia untuk mengendalikan (hawa) nafsu. Menjadi puncak segala pengendalian itu, untuk menggapai (buah) blimbing. Sekalipun harus susah payah untuk mencapainya, atau licin jalannya. Tetapkanlah hati untuk menggapainya. Semua diperlukan untuk membasuh dan mencuci (pakaian) diri, membasuh ketakwaan, membersihkan diri (hawa) nafsu atau kesalahan masa lalu. Cah angon itu adalah “Tikus Tikus Pithi Anoto Baris”
Dodot iro dodot iro kumintir bedah ing pinggir / Dondomono jrumatono kanggo seba mengko sore
(Bajumu, bajumu sudah koyak disamping / jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore)
Baju disimbolisasi sebagai iman, takwa atau kesetiaan yang telah koyak dan berlubang. Jadi dondomono .. jahitlah … jrumatono … benahi dan rawatlah untuk bekal saat nanti menghadap (Allah Swt.) Tuhan Yang Maha esa.
Mumpung padang rembulane / mumpung jembar kalangane / yo surak’o surak hiyo
(Mumpung bulan (masih) bersinar terang / mumpung (masih) banyak waktu luang / maka bersoraklah dengan sorak iya)
Semua yang harus dicapai itu lakukan saat ini juga, Selagi pikiran masih terang. Mumpung padang rembulane. Selagi banyak waktu luang … mempung jembar kalangane . dan jika ada yang mengingatkan … bersorak dan berkatalah dengan sorakan iya..!


